Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi. Tampilkan semua postingan

Tentara Bergajah Abrahah - Kisah Nabi Muhammad Part 1 Episode 6

11 Maret 1
gambar burung ababil melempari dan membinasakan pasukan bergajah abrahah
burung ababil melempari dan membinasakan pasukan bergajah abrahah


Tentara Bergajah Abrahah

Walaupun Najasyi telah memaafkannya, Abrahah masih belum puas. Dia ingin menebus kesalahannya terhadap Najasyi. Kemudian dia membangun sebuah gereja terbesar di Yaman. Abrahah menamakannya al-Qulais. Setelah itu. itu dia mengirim berita kepada Najasyi bahwa dia telah membangun sebuah gereja yang terbesar di Yaman dan dia akan memerintahkan semua kabilah Arab supaya datang berhaji ke Yaman. Selanjutnya Abrahah mengirim utusannya kepada seluruh kabilah Arab supaya datang berhaji di al-Qulais.

Apabila berita ini sampai kepada Ahlun Nasi, satu kabilah Arab yang terkenal karena sangat membesarkan Ka’bah, salah seorang dari mereka telah datang ke al-Qulais lalu membuang air besar di situ dan kotorannya di sapu ke seluruh dinding al-Qulais.

Ketika Abrahah mengetahui bahwa orang yang membuat angkara ini adalah dari Ahlun Nasi’, Abrahah sangat marah marah dan berazam membalas dendam. Tanpa membuang waktu, dia mempersiapkan tentaranya termasuk Tentara Gajah yang sangat disegani. Dia bertekad meruntuhkan Ka’bah. Dia juga membawa gajahnya yang paling besar yang diberi nama Mahmud. Dalam perjalanan Abrahah menuju ke Ka’bah, ada beberapa kabilah Arab datang menyerang tentera Abrahah untuk menyekatnya dari meruntuhkan Ka’bah. Namun semuanya dikalahkan dengan mudah oleh tentera Abrahah yang gagah dan lengkap dengan senjata itu.

Pasukan Gajah
Sesampainya Abrahah di Taif, penduduk Taif tidak berani menyekat Abrahah. Mereka telah mengkhianati Ka’bah. Mereka bukan saja memberi laluan kepada Abrahah malah menghantar wakil mereka untuk menunjukkan jalan ke Ka’bah kepada Abrahah. Lelaki Taif ini dikenali sebagai Zu Rughal. Malangnya sebelum sampai ke Ka’bah, Zu Rughal meninggal dunia lalu dia dikuburkan di tempat kematiannya. Setelah itu kuburnya menjadi tempat orang Arab melaksanakan hukuman rajam sebagai penghinaan kepada orang yang khianat kepada kaumnya. Akhirnya masyarakat memberi gelar pengkhianat sebagai Zu Rughal.

Apabila tentara Abrahah sampai diperbatasan Mekah, mereka merampas binatang ternak penduduk Mekah. Mereka turut merampas dua ratus ekor unta milik Abdul Mutalib. Untuk mengambil untanya, Abdul Mutalib yang merupakan Ketua Mekah, datang menghadap Abrahah. Ketika menyambut kedatangan Abdul Mutalib, Abrahah turun dari kursi khususnya untuk duduk di bawah bersama Abdul Mutalib.

Keterampilan Abdul Mutalib sudah menjelaskan kehebatan dan ketokohannya. Abrahah menghormatinya. Abdul Mutalib meminta Abrahah mengembalikan binatang ternaknya dan binatang ternak penduduk Mekah yang telah dirampas oleh tentara Abrahah. Abrahah terkejut mendengar permintaan itu karena Abrahah menyangka Abdul Mutalib akan membujuknya supaya jangan mengganggu Ka’bah. Namun Abdul Mutalib mempunyai alasan sendiri. Abdul Mutalib menegaskan, “Wahai Abrahah, aku ini tuan dari unta-unta ini sebab itulah aku minta dikembalikan unta-unta ini. Sementara Ka’bah itu juga ada Tuan yang menjaganya. Sekiranya Ka’bah itu Rumah Allah, pasti Allah yang menjaganya.” Demikianlah keyakinan Abdul Mutalib terhadap Tuhannya.

Mendengarkan penjelasan Abdul Mutalib itu, Abrahah mengembalikan semua binatang ternak yang dirampas dan berjanji tidak akan mengganggu penduduk Mekah. Misinya adalah ingin meruntuhkan Ka’bah. Hasil pertemuan dengan Abrahah, Abdul Mutalib berhasil membawa pulang binatang ternak penduduk Mekah. Dia mengajak seluruh penduduk Mekah berlindung ke bukit yang dekat dengan Kabah. Dari atas bukit itulah penduduk Mekah dengan hati yang iba dan cemas hanya mampu memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Abrahah terhadap Ka’bah.

Pada hari yang telah takdirkan oleh Allah, Abrahah menggerakkan Tentara Gajahnya menuju ke arah Ka’bah untuk meruntuhkan Kabah. Allah telah memperlihatkan kebesaran-Nya. Gajah tidak mau bergerak ke arah Ka’bah walaupun dipukul beberapa kali. Bila diarahkan ke arah lain, gajah segera bergerak tetapi bila diarahkan kembali ke arah Ka’bah, gajah tidak mahu bergerak. Ketika itu juga kelihatan awan hitam di langit, awan itu semakin dekat dan rupa-rupanya adalah sekumpulan burung. Burung-burung itu rupanya adalah tentara Tuhan yang bernama Ababil. Setiap Ababil membawa tiga biji batu kecil. Apabila tentara Abrahah bergerak ke arah Ka’bah, burung-burung ini melepaskan batu-batu kecil ini ke atas tentara Abrahah.

Allah memperlihatkan lagi kebesaran-Nya. Begitu batu-batu kecil ini mengenai tentara Abrahah, daging mereka mula berguguran dan menjadi cair. Banyak tentara Abrahah yang mati. Melihatkan hal itu Abrahah berusaha untuk lari menyelamatkan dirinya tapi malang batu itu mengenai badannya. Akhirnya Abrahah dan semua tentaranya terbunuh. Allah telah menceritakan pada kita umat akhir zaman peristiwa ini dalam al-Quran:

“Tidakkah engkau mengetahui bagaimana Tuhanmu telah melakukan kepada angkatan Tentara (yang dipimpin oleh pembawa) Gajah, (yang hendak meruntuhkan Kabah)? Bukankah Tuhanmu telah menjadikan rancangan jahat mereka dalam keadaan yang rugi dan memusnahkan mereka? Dan Ia telah mengirim kepada mereka (rombongan) burung berpasukan. Yang melontar mereka dengan batu-batu dari sejenis tanah yang dibakar. Lalu Ia menjadikan mereka hancur berkecai seperti daun-daun kayu yang dimakan ulat.” (Surah al-Fil: 1-5)

Maha Besar Tuhan, Maha Besar Tuhan. Peristiwa ini telah menambah penghormatan masyarakat Arab kepada Kabah terutama bangsa Quraisy dan penduduk Mekah. Mereka telah menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepala mereka sendiri. Maka tahun itu dinamakan Tahun Gajah. Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tahun ini. Yaitu pada 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah.

Baca Juga: Persia Menaklukan Yaman - Kisah Nabi Muhammad Part 1 Episode 7

Kedatangan Agama Nasrani ke Jazirah Arab - Kisah Nabi Muhammad Part 1 Episode 5

03 Maret 0
Kedatangan Agama Nasrani ke Jazirah Arab
Ketika Yaman diperintah oleh keturunan Tabban yang bernama Zu Nuwas, ada seorang rahib Nasrani dari Syam meninggalkan Syam untuk berdakwah ke Afrika. Dalam perjalanan, dia diserang oleh perampok, dia ditangkap dan dijual kepada seorang lelaki dari Najran. Kemudian lelaki itu pindah ke Jazirah Arab. Nama rahib ini ialah Femeon. Karena Femeon telah menjadi hamba, disamping mengabdi dengan tuannya dia juga beribadah di waktu istirahat malah sangat kuat beribadah.
kisah-nabi-muhammad
Kisah Nabi Muhammad episode 5
Pada satu malam majikannya masuk ke tempat Femeon dan dia melihat jasad Femeon bercahaya. Ketika ditanya, Femeon berpeluang untuk berdakwah kepada majikannya tentang agama Nasrani. Orang Najran ketika itu menyembah pohon.
Femeon bertanya, “Bagaimana kalau Tuhan aku dapat mengalahkan tuhan kamu, apakah kamu mau menyembah Tuhan aku?”
Orang Najran itu menjawab, “Kalau memang Tuhan kamu dapat mengalahkan tuhan aku, aku masuk agama kamu.”

Lalu berkumpullah orang-orang di pohon yang menjadi sembahan penduduk Najran itu. Femeon datang ke situ, dia bersembahyang dan berdoa kepada Allah agar Allah memberi hidayah kepada penduduk Najran sehingga menerima agama Tuhan. Akhirnya Allah datangkan petir membakar pohon itu. Dengan peristiwa itu, semua penduduk Najran telah memeluk agama Nasrani.

Setelah itu ada seorang lelaki dari Najran bernama Abdullah bin Tsabit dan beberapa orang pendeta Nasrani Najran pindah ke Yaman. Mereka beribadah dengan sembunyi-sembunyi di Yaman karena takut kepada penduduk Yahudi. Yaman ketika itu masih diperintah oleh Tubba’ yang bernama Zu Nuwas.

Zu Nuwas sedang mencari pengganti ahli sihirnya yang sudah tua. Dia memilih seorang remaja yang paling cerdik di negerinya untuk mewarisi ilmu sihir dari tukang sihirnya. Setiap hari Remaja pilihan raja itu pergi belajar sihir kepada tukang sihir raja yang tinggal di sebuah bukit. Di dalam perjalanan menuju ke tempat gurunya itu, dia melinyasi tempat salah seorang Pendeta dari Najran tadi. Karena sering lewat kawasan itu, dia dapat mendengar rintihan Rahib ini dalam ibadahnya. Dia pun jatuh hati mendengar rintihan dan doa Pendeta itu. Akhirnya Remaja itu belajar dengan Rahib itu.

Pada waktu itu dia masih belajar ilmu sihir dari tukang sihir raja. Kebenaran yang telah meresap dalam jiwanya telah menjadikan dia benci kepada sihir. Akhirnya dia tidak lagi pergi belajar dengan tukang sihir raja tetapi hanya pergi belajar dengan Pendeta.

Mengetahui hal itu, Tukang sihir melaporkan kepada Raja lalu Remaja itu ditangkap, diazab dan dipaksa keluar dari agama kebenaran yang dipelajarinya dari Pendeta. Remaja itu tetap dengan pendiriannya walaupun Tubba’ Zu Nuwas akan membunuhnya.

Untuk membunuhnya, pengawal raja diperintah untuk mencampakkannya ke tengah laut. Namun, ketika sampai di tengah laut, datang badai yang membuat sampan yang dinaiki terbalik. Semua pengawal raja mati tetapi Remaja itu pulang menghadap raja dengan selamat. Demikian Maha Berkuasanya Tuhan menyelamatkan hambanya yang sedang memperjuangkan kebenaran dari-Nya.

Tubba’ Zu Nuwas masih tidak puas, lalu dia memerintahkan supaya Remaja itu dicampakkan dari atas gunung. Seluruh rakyat jelata dipanggil untuk menyaksikan hukuman ini. Apabila remaja ini hendak dicampakkan dari atas gunung berlakulah gempa bumi yang amat dahsyat sehingga seluruh tentara raja yang membawanya jatuh dari atas gunung tetapi Remaja itu tetap selamat dengan izin Allah.

Remaja itu akhirnya membongkar rahasia jika Tubba’ ingin membunuhnya. Remaja itu berkata, agar dikumpulkan khalayak ramai. Tubba’ perlu mengikat Sang Remaja di sebatang pokok dan dipanah dengan anak panah kepunyaan Sang Remaja dengan menyebut, “Dengan nama Allah, Tuhan remaja ini.” Jika Tubba’ melaksanakannya barulah dia akan dapat membunuh Remaja itu.

Tubba Zu Nuwas pun langsung melaksanakannya seperti yang telah diberitahu maka maka barulah Tubba berhasil membunuh Remaja itu. Namun semua rakyat yang menyaksikan peristiwa ini berkata, “Lihatlah! Tubba Zu Nuwas dengan kekuasaan dan kegagahannya tidak dapat membunuh remaja ini melainkan dengan menyebut “Dengan nama Allah, Tuhan remaja ini!” Bagi mereka, peristiwa itu ternyata membuktikan kebenaran agama Remaja itu, lalu Allah mencampakkan keimanan ke dalam hati 20 ribu rakyat Yaman ketika itu. Berimanlah mereka dengan agama kebenaran.

Tubba Zu Nuwas benar-benar murka. Dia memerintahkan tentaranya menggali sebuah lubang yang besar dikenali sebagai Ukhdud dan dipenuhi dengan kayu bakar di dalamnya kemudian dinyalakan api yang besar. Sesiapa yang tidak mau murtad dari agama kebenaran akan dicampakkan ke dalam api itu. Al-Quran telah merekam peristiwa tragis ini dalam surah al-Buruj:
“Demi langit yang mempunyai tempat peredaran bintang-bintang. Dan Hari (Pembalasan) yang dijanjikan. Dan makhluk-makhluk yang hadir menyaksikan hari itu, serta segala keadaan yang disaksikan. Celakalah kaum yang menggali parit. (Parit) api yang penuh dengan bahan bakaran. (Mereka dilaknat) ketika mereka duduk di sekelilingnya. Sambil mereka melihat apa yang mereka lakukan kepada orang yang beriman. Dan mereka tidak marah dan menyiksa orang yang beriman itu melainkan karena orang itu beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Terpuji” (Surah al-Buruj: 1-8)
Kisah Nabi Muhammad
Hadis Nabi Muhammad saw juga menceritakan sebuah kisah yang menyayat hati tatkala seorang ibu dengan bayinya yang masih menyusu hendak dicampakkan ke dalam api. Si ibu merasa takut dan ragu-ragu. Hatinya bagai disayat-sayat untuk membawa si kecil bersamanya masuk ke dalam api. Allah memperlihatkan kebesaran-Nya. Bayi itu tiba-tiba berkata kepada ibunya, “Wahai ibu, janganlah takut, masuk saja ke dalam api itu. Sesungguhnya ibu sedang menuju ke syurga!”

Walaupun baru sebentar beriman namun kebenaran itu telah meresapi seluruh jiwa dan raga rakyat jelata Yaman. Mereka tidak berganjak sedikit pun walaupun akan dibakar dalam api yang menyala. Sungguh ajaib sebuah keyakinan apalagi ia adalah kebenaran. Sebanyak 20 ribu orang rakyat jelata telah syahid dibakar oleh Tubba Zu Nuwas.

Dengan kehendak Allah, ada seorang lelaki yang berhasil selamat, namanya Daus bin Tsa’labah. Dia berhasil melarikan diri kepada Qaisar Rom yang juga beragama Nasrani. Menyalalah api kemarahan Qaisar apabila mendengar perbuatan Zu Nuwas membakar penganut Nasrani di Yaman. Qaisar mengirim wakilnya kepada Najasyi Raja Habsyah yang juga beragama Nasrani karena lokasinya paling dekat dengan Yaman. Qaisar Rom memerintahkan supaya Najasi mengirim tentara memerangi Tubba’ Zu Nuwas.

Najasi yang juga marah, langsung mempersiapkan tentara sebanyak 70 ribu orang. Satu jumlah tentara yang sangat besar ketika itu malah belum pernah berlaku sebelumnya di Jazirah Arab. Tentara ini diketuai oleh seorang panglima yang bernama Aryath. Aryath dibantu oleh seorang lagi panglima Najasyi yang gagah bernama Abrahah.

Tentara Aryath telah berhasil mengalahkan tentara Tubba Zu Nuwas. Zu Nuwas melarikan diri ke laut dan akhirnya bunuh diri. Dengan itu Habsyah telah menguasai Yaman dan Najasi melantik Aryath menjadi Gubernur di Yaman. Malang, apabila Aryath menjadi Gubernur, dia bukan saja dzalim pada rakyat Yaman malah pada tentaranya sendiri. Akhirnya sebagian tentara ada yang tidak tahan lagi dengan sikap Aryath. Tentara yang tidak tahan dengan sikap aryarth dipimpin oleh Abrahah

Tentara Habsyah pecah menjadi dua kelompok. Ada yang setia menyokong Aryath dan ada yang mendukung Abrahah. Abrahah tidak ingin terjadi peperangan di kalangan sesama tentara Habsyah. Oleh karena itu, Dia telah menantang Aryath untuk bertarung satu lawan satu. Siapa yang menang dialah yang akan memerintah Yaman. Dalam pertarungan itu, Abrahah telah berhasil membunuh Aryath tetapi sebelum terbunuh Aryath sempat melibaskan pedangnya sehingga hidung Abrahah cacat. Sejak itulah Abarahah ini mendapat gelar ‘Abrahah al-Asyram’ iaitu Abrahah yang cacat hidungnya. Lalu Abrahah melantik dirinya sebagai Gubernur Yaman.

Mendengar berita ini, Najasi marah kepada Abrahah karena berani membunuh Gubernur yang dilantiknya. Najasi bersumpah akan memimpin sendiri tentaranya ke Yaman dan tidak akan kembali ke Hasyah sebelum dia dapat menginjak-injak tanah Yaman dan membotaki kepala Abrahah sebagai satu tanda penghinaan kepada Abrahah. Abrahah ketakutan karena telah durhaka kepada Najasi. Namun dengan kepintarannya dia mengirim utusannya mengadap Najasyi membawa rambutnya dan tanah Yaman. Sehelai surat ditulis kepada kepada Najasyi. “Wahai Tuanku Najasyi, ini Abrahah sudah menyempurnakan sumpah Tuanku. Ini rambut Abrahah dan ini tanah Yaman untuk Tuanku pijak-pijak. Abrahah tetap taat setia dan tunduk kepada Tuanku Najasyi.” Dengan peristiwa itu Najasyi telah membatalkan niatnya memerangi Abrahah. Demikianlah penyelesaian masalah antara Abrahah dengan Najasyi.


Kedatangan Agama Yahudi ke Jazirah Arab - Kisah Nabi Muhammad Part 1 Episode 4

02 Maret 0
Kedatangan Agama Yahudi ke Jazirah Arab
Ketika itu rakyat Najran beragama Nasrani. Rakyat Yaman sebagian Yahudi dan sebagian lagi Nasrani. Sementara Yathrib dan Khaybar pula didiami oleh pendatang Yahudi dari Syam. Yahudi merupakan anutan kebanyakan penduduk mayoritas Yaman tetapi selepas itu Persia yang menganut Majusi telah menguasai Yaman. Ketika Rasulullah saw diutus, Yaman diperintah oleh kerajaan Persia. Ketika itu raja Rom bergelar Qaisar dan raja Persia bergelar Kisra, raja Habsyah bergelar Najasyi, dan raja Yaman bergelar Tubba.’
kisah-nabi-muhammad-kedatangan-agama-yahudi-ke-jazirah-arab
sumber: https://id.pinterest.com/albiben/oranje-horizon/
Al-Quran menceritakan perihal kaum Tubba’ Yaman. Suatu ketika Yaman diperintah oleh Tubba’ yang bernama Tabban bin As’ad. Dia seorang raja yang terkenal dan selalu keluar berdagang dan melancong. Pada suatu ketika, dia keluar berdagang ke Syam ditemani oleh anaknya dan diiringi oleh tenteranya. Dalam perjalanan ke Syam, mereka singgah di Madinah. Tabban meninggalkan anaknya untuk mengurus perniagaannya di Syam. Berlaku salah paham di antara anaknya dan penduduk Madinah sehingga mereka telah membunuh anaknya. Apabila Tabban mendapat berita tentang pembunuhan anaknya, dia belik ke Madinah untuk menuntut balas atas kematian anaknya. Maka berlakulah peperangan di antara orang Yaman dan orang Madinah.

Dalam peperangan itu ada satu perkara yang menjadikan dia keheranan, dia merasa pelik bahkan satu yang sangat menarik bagi Tabban. Orang Madinah karena terlalu pemurah, mereka berperang di siang hari tapi apabila tiba waktu malam mereka berhenti berperang. Pada waktu malam, penduduk Madinah mengantar makanan dan minuman kepada tentera Tabban yang memerangi mereka pada siang hari. Begitulah penduduk Madinah memuliakan tetamu walaupun tetamu itu adalah musuh yang memerangi mereka. Namun, kebaikan orang Madinah ini tidak mampu mengubah Tabban yang masih mau menuntut balas ke atas kematian anaknya.

Di tengah peperangan itu, Tabban dikunjungi oleh sekumpulan pendeta Yahudi yang datang dari Syam. Mereka memang ingin bertemu dan berbincang dengan Tabban. Mereka bertanya apa yang Tabban mau dari peperangan ini. Tabban memberitahu mereka bahwa dia mahu menghancurkan Madinah. Mereka menasihati Tabban agar tidak meneruskan rancangannya itu karena ia tidak akan berhasil, sebaliknya Allah akan memusnahkannya karena Madinah ini adalah tempat hijrah Nabi Penutup segala Nabi. Begitulah menurut kitab Yahudi. Akhirnya Tabban berminat dan tertarik untuk mendalami Kitab Taurat. Akhirnya dia memeluk agama Yahudi dan berhenti dari memerangi penduduk Madinah.

Selepas itu dia dan tenteranya kembali meneruskan perjalanan ke Mekah. Ketika itu Bani Huzail sedang memusuhi orang Mekah sedangkan mereka juga tidak suka kepada orang Yaman telah mengambil peluang ini untuk mengadu Yaman dan Mekah. Mereka menceritakan pada Tabban bahwa di Mekah terdapat satu bangunan yang dipanggil Ka’bah. Di bawah Ka’bah ini terdapat banyak emas dan permata. 

Kenyataan itu memang benar karena ketika itu orang Arab menanam emas dan permata di Ka’bah untuk memuliakan Ka’bah. Apabila Tabban mendengar hal ini, datang perasaan tamaknya untuk menguasai semua harta itu. Dia mempersiapkan tenteranya untuk menyerang Mekah dan Ka’bah. Pendeta Yahudi yang masih bersama mereka karena mengajar agama Yahudi telah menasihati Tabban agar jangan menyerang Mekah dan Ka’bah. Mereka menasihatinya, “Menurut pengetahuan kami, Ka’bah adalah satu-satunya rumah Allah di atas muka bumi. Kalau kamu serang Ka’bah, Allah yang akan musnahkan kamu.” Tabban menerima nasihat ini bahkan bertanya kepada pendeta apa yang patut dia lakukan apabila dia memasuki Mekah nanti. Ujar mereka, “Bila engkau memasuki Mekah, hendaklah engkau membesarkan dan memuliakan Ka’bah dengan melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah.” 

Tabban bertanya kepada pendeta itu, “Apakah kamu akan bertawaf juga?” para pendeta menjawab, “Kami juga ingin melakukan tawaf tetapi oleh karena Ka’bah saat ini dipenuhi dengan berhala di sekelilingnya, kami para ulama tidak sepatutnya bertawaf dalam keadaan begini.” Tabban telah melaksanakan nasihat pendeta Yahudi. Semasa dia berada di Mekah, dia bermimpi bahwa dia telah memakaikan kelambu pada Ka’bah. Maka Tabban memerintahkan orangnya menyiapkan kelambu Ka’bah. Dengan itu orang yang pertama memakaikan kelambu pada Ka’bah ialah Tabban bin As’ad. Selepas itu barulah kabilah Arab menyambung tradisi ini.

Apabila Tabban pulang ke Yaman, dia memerintahkan semua rakyatnya menganut agama Yahudi tetapi rakyatnya tidak setuju. Rakyat Yaman ketika itu beragama Majusi yang menyembah api. Di setiap rumah mereka ada rumah api dan kalau berlaku perselisihan, mereka akan merujuk kepada Rumah Api. Apabila Rumah Api dibuka, siapa yang disambar api terlebih dahulu dialah yang bersalah. Rakyat Yaman mengambil keputusan untuk berhakim dengan api dalam masaiah arahan Tabban ini. Tabban pun bersetuju dengan penyelesaian ini. 

Pada hari yang ditentukan, berkumpullah para pendeta Yahudi dan pendeta Majusi ke Rumah Api. Apabila dibuka pintu Rumah Api, api menyambar pendeta Majusi, lalu mereka lari menyelamatkan diri. Walaupun begitu, rakyat tetap tidak berpuas hati. Lalu diulangi penghakiman itu tetapi kali ini pendeta Majusi tidak diperbolehkan lari walau apapun yang akan berlaku. Apabila dibuka Rumah Api, api terus menyambar pendeta Majusi dan akhirnya semua mereka mati dibakar api. Menyaksikan peristiwa itu, semua rakyat Yaman telah memeluk agama Yahudi. Demikianlah bagaimana agama Yahudi mula bertapak di Semenanjung Arab.

Bermulanya Syirik di Jazirah Arab - Kisah Nabi Muhammad Part 1 episode 3

01 Maret
Bermulanya Syirik di Jazirah Arab
Selepas itu datang seorang pemimpin Arab dari Bani Khuza’ah yang dikenal sebagai Amru bin Luhayy membawa Bani Khuza’ah menyerang Bani Jurhum dan mengusir mereka keluar dari Mekah. Seterusnya Bani Khuza’ah menguasai Mekah. Amru bin Luhayy adalah orang pertama yang memperkenalkan berhala kepada kaumnya yang kemudian tersebar ke seluruh kabilah Arab yang lain.

Karena dia orang yang kaya dan dermawan, maka dia telah menggunakan pengaruhnya dengan menyediakan layanan dan keperluan kepada sesiapa saja yang datang mengerjakan haji ke Mekah ketika itu. Kekayaan dan kedermawanannya itulah yang telah mempengaruhi penduduk Mekah sehingga mereka mendengar segala kata-kata Amru dan menurut segala perintahnya agar menyembah berhala. Amru telah menukar talbiah tauhid kepada talbiah syirik. Talbiah tauhid yang disunatkan untuk jemaah haji membacanya ketika Ihram telah dirubah.

“Ketaatan hanya untuk-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya pujian dan nikmat hanya untuk-Mu,tiada sekutu bagi-Mu”
Amru bin Luhayy telah merubah talbiah ini menjadi:
“Tiada sekutu bagi-Mu melainkan sekutu yang menjadi milik-Mu. Engkau memilikinya dan segala kepunyaannya.”
Talbiah yang mengesakan Tuhan ini telah diubah menjadi talbiah yang mensyirikkan Tuhan. Malah Amru telah mencipta binatang-binatang yang suci pula untuk ditaqdiskan oleh masyarakat. Dia menamakannya Saaibah, Bahiirah, Haami. Haami adalah seekor unta betina yang telah melahirkan sepuluh ekor unta jantan. Unta ini tidak boleh ditunggangi lagi, tidak boleh disembelih, tidak boleh disakiti bahkan ia mesti dimuliakan dan dipuja.

Setiap kabilah mencipta berhala mereka sendiri. Terciptalah Hubal sebagai berhala orang Mekah, Wud berhala Bani Kilab, Suwa berhala Bani Huzail, Yaghuus berhala Bani Thoyyik dan penduduk Jerash, Yauu’qa berhala Bani Hamazan dan Nasr berhala orang Yaman. Ada dua berhala yang bernama Isaf dan Nailah mempunyai rahasia tersendiri.

 Kedua berhala ini diletakkan di Ka’bah dan disembah. Diceritakan Isaf adalah seorang pemuda dari Yaman dan Nailah adalah seorang gadis juga dari Yaman. Mereka telah bercinta tetapi keluarga mereka telah menghalang percintaan mereka. Mereka berjanji untuk lari dan bertemu di Mekah pada musim haji. Akhirnya mereka telah berzina di tepi Ka’bah tetapi tidak ada seorang pun mengetahui kejadian itu. Kemurkaan Allah telah menjadikan mereka berdua menjadi batu sebagai pengajaran dan peringatan kepada masyarakat.

 Selepas itu Isaf diletakkan di Safa dan Nailah diletakkan di Marwah. Apabila Amru bin Lahayy masuk ke Mekah, dia telah memindahkan kedua-dua batu ini ke Ka’bah. Akhirnya masyarakat sudah lupa asal-usul batu ini malah mereka menjadikan dua batu ini ‘Tuhan’ yang disembah. Demikianlah penyembahan berhala telah semakin meluas di Semenanjung Arab. Demikianlah manusia menjadi sesat apabila terputusnya pimpinan wahyu dari Tuhan.

Pernah Sayidina Umar ketika menjadi Amirul Mukminin dilihat oleh para sahabat & menangis dan kemudian tertawa tanpa sebab yang dapat difahami. Apabila ditanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa kami melihat kamu menangis kemudian tersenyum?” Sayyidina Umar pun bercerita, “Dulu aku dan kaum Quraisy sebelum Allah datangkan rahmat Islam, kami sangat membenci anak perempuan.

Aku telah mendapat seorang anak perempuan dan dari saat kelahirannya kebencianku sudah bermula, tapi aku pendam rasa benci itu hingga dia berumur enam tahun. Ketika itu aku sudah tidak tahan lagi, lalu aku bawa dia ke padang pasir dan aku gali lubang untuk menguburkannya di situ. Anakku menyangka aku membawanya berjalan-jalan dan bermain-main. Lalu dia juga turut membantuku menggali lubang.

 Apabila lubang telah siap, aku mendorongnya ke dalam lubang dan aku mulai menimbunnya dengan pasir. Anakku yang masih belum tahu niatku, masih menyangka aku bermain-main telah menolong mengibaskan pasir dari janggut dan pakaianku. Namun akhirnya aku timbun dia hidup-hidup tanpa belas kasihan. Inilah kehidupan kami sebelum kedatangan Baginda Nabi Muhammad saw. Kami memuliakan anak lelaki dan menghina anak perempuan bahkan membunuh mereka hidup-hidup. Mengenang kebodohan dan kekejamanku itulah aku menangis.”

Sayyidina Umar menyambung lagi, “Adapun rahasia tersenyumku, satu hari aku keluar dari Mekah. Sudah menjadi tradisi kami, kalau keluar dari Mekah biasanya akan membawa batu dari Mekah untuk dijadikan sembahan kami. Pada hari itu aku terlupa untuk membawa batu tapi aku membawa banyak tamar. Dengan tamar itulah aku ciptakan berhala kemudian aku sembah berhala itu. Apabila makanan aku habis dan aku menghadapi kelaparan yang amat sangat, terpaksalah aku makan berhala tamar yang aku sembah itu sedikit demi sedikit. Bila aku teringat peristiwa itu, aku ketawa sendiri.”

Begitulah kehidupan bangsa Arab Jahiliyah sebelum kedatangan agama Islam. Alangkah hebatnya Baginda Nabi Muhammad saw yang telah berjaya mengubah bangsa Arab Jahiliyah ini menjadi peribadi yang sangat agung.

Baca Lanjutan: Kedatangan Agama Yahudi ke Jazirah Arab - Kisah Nabi Part 1 Episode 4

Allah Memerintahkan Nabi Ibrahim Membangun Ka'bah - Kisah Nabi Muhammad Part 1 Episode 1 & 2

01 Maret
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang dan dengan berkat Rasulullah Muhammad saw serta berkat Mursyidku jua. Inilah singkapan sejarah hidup seagung-agung manusia di atas muka bumi ini. Kelahirannya telah mengubah kehidupan manusia dari memperhambakan diri kepada makhluk menjadi memperhambakan diri kepada Pencipta segala makhluk. Baginda Nabi Muhammad saw telah memperkenalkan Tuhan kepada manusia. Lahir dari didikannya segolongan manusia yang telah dapat mengenali Tuhan hingga cinta dan takut kepada Tuhan. Merekalah sebaik-baik ummah yang pernah dilahirkan ke dunia ini.

Untuk memulakan sejarah ini wajarlah kita simak dahulu peristiwa sebelumnya agar kita juga dapat mengetahui sejarah bangsa-bangsa ketika itu. Nanti kita akan dapat melihat perbedaan mereka sebelum dan setelah kedatangan Rasulullah saw. Kedatangan pemimpin dari Tuhan itu telah mengubah Jaziratul Arabiah dan dunia. Dalam masa hanya dua puluh tiga tahun, Rasul itu telah berjaya membawa bangsanya dari sebuah bangsa yang diperhambakan kepada sebuah bangsa yang disegani lawan dan kawan. Semua itu hanyalah karena mereka telah diperkenalkan kepada Allah SWT. 

Akhirnya mereka jatuh cinta kepada Dzat Yang Maha Agung itu. Lalu mereka sangat takut terhadap-Nya. Akhimya mereka layak menjadi pemimpin dan penyelamat kemanusiaan. Demikianlah rahmat besar yang dibawa oleh Baginda Rasulullah Muhammad saw. Benarlah kedatanganmu adalah rahmat, wahai Rasulullah.

Allah Memerintahkan Nabi Ibrahim Membangun Kabah (Episode 1)
Allah SWT telah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s membawa isteri dan anak kecil kesayangannya, Nabi Ismail, untuk ditinggalkan di Mekah. Mekah ketika itu hanyalah sebuah wadi gersang dan kering-kontang. Namun di situlah Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim. Di situlah Rumah Allah dan tanahnya dimuliakan sebagai Tanah Haram. Demi menunaikan perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim a.s telah meninggalkan isteri dan anaknya Nabi Ismail a.s di situ. Siti Hajar merasa terkejut karena di kawasan itu tidak ada air dan makanan bahkan tiada manusia dan kehidupan sama sekali. Namun dia akan ditinggalkan bersama seorang bayi kecil.
Kisah-Nabi-Muhammad-Foto Kota Mekah di Masa Lalu
      Foto Kota Mekah di Masa Lalu
Ketika Nabi Ibrahim a.s ingin meninggalkan tempat itu, Siti Hajar mengikutinya sambil bertanya kepada suaminya mengapa dia ditinggalkan sendirian di situ. Namun Nabi Ibrahim a.s tidak mengindahkannya. Akhirnya Siti Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan agar aku ditinggalkan di sini?” Nabi Ibrahim a.s, menjawab, “Benar wahai isteriku.” Mendengar jawaban itu, Siti Hajar dengan hati yang beriman kepada Allah berkata, “Kalau begitu, sudah pasti Allah tidak akan mensia-siakan kita.” Dia yakin, pasti akan ada pembelaan dari Allah, Tuhan yang Maha Baik itu. Tinggallah Siti Hajar di situ sendirian ditemani si anak kecil.

Si anak menangis kehausan karena susu Siti Hajar sudah mulai kering. Tiada yang dapat dilakukan olehnya melainkan meminta kepada Allah SWT. Sambil meminta kepada Tuhannya, Siti Hajar berlari ke bukit Safa. Dari Bukit Safa, dia berlari pula ke bukit Marwa dengan harapan ada orang lewat di situ. Namun tiada sesiapa yang ditemuinya. Berkat rintihan hati Siti Hajar yang sangat yakin bahwa Allah SWT tidak akan mensia-siakannya, Allah SWT telah mengirim Malaikat Jibril menyingkap telaga Zam-zam dengan ujung sayapnya. Lalu terpancarlah air itu dari hentakan kaki anak kecilnya, bakal seorang Nabi. Inilah sejarah Zam-zam yang kekal hingga ke hari ini.

Peristiwa ini berlaku selepas sebuah bendungan besar di Yaman yang dikenali dengan nama Sad Ma’ribpecah. Ia adalah sebuah bendungan besar yang menjadi sumber air dan sumber kehidupan kepada rakyat Yaman. Bendungan ini dibangun oleh kerajaan Saba’ yang terkenal dengan kepakaran seni bangunan. Mereka membina bendungan ini untuk menampung air hujan yang akan dimanfaatkan untuk keperluan harian dan pertanian mereka. 

Apabila mereka kufur terhadap nikmat-Nya, Allah telah menghukum mereka dengan dihancurkannya bendungan itu yang menyebabkan berlakunya banjir besar. Akhirnya penduduk Yaman yang merupakan bangsa Arab terpaksa berpindah mencari kehidupan dan tempat tinggal yang baru. Sejak itu, bertebaranlah bangsa Arab ke seluruh Semenanjung Arab mencari kehidupan baru. Bani Tsaqif telah berpindah ke Taif, Bani Aus dan Bani Khazraj berpindah ke Madinah, Bani Ghasasinah berhijrah ke Syam, manakala Bani Manazirah pula berhijrah ke perbatasan Iraq.
Kisah Nabi Muhammad Foto Bendungan Sad Marib
Foto Bendungan Sad Marib
Tidak berapa lama setelah peristiwa Zam-zam itu, berlaku suatu lagi ketentuan Tuhan. Bani Jurhum sedang dalam perjalanan mencari tempat tinggal baru. Ketika melewati dekat lembah Mekah, mereka heran apabila melihat kawanan burung berterbangan di kawasan itu. Kewujudan burung-burung itu menandakan adanya air di kawasan itu sedangkan mereka sangat tahu di kawasan itu tidak ada sumber air. Apabila diperiksa, ternyata memang ada air di situ. Malah mereka mendapati ada seorang wanita bersama anak kecilnya di mata air itu. Bani Jurhum yang terkenal dengan sifat baik itu, tidak merampas Zam-zam dari Siti Hajar. 

Mereka telah meminta kebenaran untuk berkongsi air dengannya. Malah mereka sanggup membayar sewa telaga air itu kepada Siti Hajar. Demikianlah Allah yang Maha Baik tidak mensia-siakan hamba-Nya yang bergantung sepenuhnya dengan rahmat-Nya. Ini juga keberkatan doa dan rintihan hati seorang Nabi. Nabi Ibrahim, karena perintah Allah dengan hati yang lurus kepada Tuhan telah meninggalkan isteri dan anak kesayangannya di tempat yang mustahil untuk manusia hidup. Namun inilah keyakinan seorang Nabi kepada Tuhannya.

Perintah Membangun Kabah (Episode 2)
Perintah Membangun Kabah
Setelah Nabi Ismail a.s agak dewasa, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun Kabah di atas tapak asas Kabah yang dibangun oleh Nabi Adam a.s. Kabah pertama telah dibangun di zaman Nabi Adam, tetapi ia telah telah runtuh dan tertimbun. Setelah Kabah selesai dibangun, terdapat satu sudut yang tidak dapat disempurnakan karena tiada batu yang sesuai ukurannya untuk diletakkan di sudut itu. Mereka telah berusaha mencari batu yang sesuai, namun tidak dapat ditemukan. Oleh karena itu, Allah telah menurunkan sebuah batu dari syurga. Itulah Hajarul Aswad yang disunatkan pada jemaah haji mengucupnya sampai ke hari ini.
Kisah-Nabi-Muhammad-Hajar-Aswad
Hajar Aswad
Ka’bah hanyalah sebuah bangunan batu. Apabila ia selesai dibangun, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim melaungkan azan menyeru manusia supaya mendatangi Ka’bah. Nabi Ibrahim bertanya, “Wahai Tuhan, bagaimanakah suara saya akan sampai kepada semua manusia?” Allah berfirman, “Wahai Ibrahim, tugas kamu hanyalah menyeru. Allahlah yang akan menyampaikan kepada manusia.” Untuk melaksanakan perintah Tuhan itu, Nabi Ibrahim mendaki Jabal Arafah dan melaungkan azan menyeru manusia dari seluruh dunia ke Ka’bah. 

Maha Besar Tuhan, dengan kuasanya yang tiada batas itu, Allah telah menjadikan seruan Nabi Ibrahim dapat di dengar seluruh manusia ketika itu. Bahkan Allah telah menjatuhkan ke dalam hati-hati manusia rasa cinta dan rasa hormat terhadap Ka’bah. Demikianlah ketaatan mutlak Nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah Allah. Demikian pula Allah yang Maha Berkuasa itu telah menjayakan kehendak-Nya.

Bermulalah manusia berdatangan menunaikan haji di Ka’bah khususnya dari Semenanjung Arab. Tiada siapa mengajarkan dan mengarahkan mereka tetapi mereka telah membesarkan dan memuliakan Ka’bah. Bermulalah ibadah Haji dengan kuasa Allah. Dari situ tersebarlah agama kebenaran sehingga akhirnya seluruh bangsa Arab menganut agama Nabi Ibrahim. Allah-lah yang telah memenangkan agamanya tanpa campur tangan siapa pun. Bukankah ini kebenaran janji Allah dalam Quran-Nya? Firman Allah:
“Tiadalah kemenangan itu melainkan semata-mata kurniaan dari Allah.”

Kisah Nabi Muhammad SAW Paling Lengkap dari Lahir Hingga Wafat

27 Februari 0
Kisah Nabi Muhammad - Rasulullah Saw mempunyai nama lengkap Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushayi bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan dan selanjutnya bertemu garis keterunan beliau dengan Nabi Ismail as.
Adapun garis keturunan beliau dari sisi Ibunya adalah Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Dengan demikian, garis keturunan beliau dari sisi ayah dan ibu bertemu pada kakek beliau, Kilab.
kisah-nabi-muhammad
Kisah Nabi Muhammad SAW

Kisah Nabi Muhammad di Tahun Gajah

Pada tahun ini datang pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah dari negeri Habasyah untuk merobohkan Ka’bah. Maksud jahat mereka ini berhasil digagalkan dengan pertolongan Allah Swt yang mengirimkan burung-burung Ababil, yang menjatuhkan batu-batu yang mengandung wabah penyakit dan menimpakannya atas pasukan Abrahah. Perisitiwa ini terjadi pada pertengahan abad ke 6 Masehi.

Kisah Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Menurut pendapat yang paling kuat, Rasulullah Saw dilahirkan pada hari Senin, malam 12 Rabiul Awwal di Makkah bertepatan dengan awal Tahun Gajah.

Jarak antara kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan kelahiran Nabi Isa As adalah 571 tahun, antara Nabi Isa as hingga wafatnya Nabi Musa As adalah 1716 tahun, antara Nabi Musa As dan Nabi Ibrahim As adalah 545 tahun, antara Nabi Ibrahim As dan air bah yang terjadi pada masa Nabi Nuh As adalah 1080 tahun, antara air bah Nabi Nuh As dan Nabi Adam As adalah 2242 tahun. Sehingga jarak antara kelahiran Nabi Muhammad Saw dan Nabi Adam As adalah 6155 tahun, berdasarkan riwayat yang masyhur dari para ahli sejarah.

Nabi Muhammad Saw dibesarkan di Makkah sebagai anak yatim, karena ayahnya Abdullah wafat di Madinah dua bulan sebelum Beliau lahir. Pada waktu itu ayahnya sedang berdagang di Syam dan singgah di Madinah dalam keadaan sakit, hingga wafat di rumah pamannya dari bani Najjar.
Ayahnya tidak meninggalkan apa-apa kecuali 5 ekor unta dan sahaya perempuan.

Kisah Nabi Muhammad SAW di Masa Persusuan

Pada waktu itu bangsa Arab mempunyai kebiasaan untuk menitipkan penyusuan anak-anak mereka kepada perempuan lain di dusun dengan harapan agar anak tersebut di kemudian hari mempunyai tubuh yang kuat dan omongan yang fasih.
Berdasarkan kebiasaan inilah kakeknya Abdul Muthalib menyerahkan cucunya Muhammad Saw kepada Halimah binti Dzuaib As-Sa’diyah salah seorang perempuan dari Bani Sa’ad untuk menyusui Beliau.
Pada saat itu, Bani Sa’ad sedang dilanda paceklik, kemarau panjang melanda daerah tempat tinggal mereka. Tapi ketika Muhammad kecil tiba di kediaman halimah dan menetap di sana untuk disusui, lambat laun tanah di sekitar kediaman Halimah kembali subur.
Ketika Rasulullah Saw tinggal di kediaman Halimah sering terjadi hal-hal luar biasa pada diri Nabi Muhammad Saw termasuk peristiwa “pembelahan dada”. Setelah disapih, Nabi Muhammad pun dikembalikan kepada ibundanya Aminah. Saat itu, Rasulullah Saw baru berusia lima tahun.

Kisah Wafatnya Ibu Nabi Muhammad Saw

Pada tahun keenam dari umur beliau SAW, ibunya membawanya pergi ke Madinah untuk menemui paman-pamannya di sana. Namun ketika baru sampai ke desa Abwa, yakni suatu desa yang terletak antara kota Mekkah dan Madinah, Ibunya, Aminah meninggal dunia. Maka beliau Saw diasuh oleh Ummu Aiman dibawah tanggungan kakek beliau Abdul Muthalib, dan ini berlangsung selama dua tahun.

Kisah Wafatnya Kakek Nabi Muhammad Saw

Pada tahun kedelapan dari umur beliau, Abdul Muthalib kakek beliau meninggal dunia, maka beliau selanjutnya diasuh oleh paman beliau Abu Thalib. Abu Thalib ini adalah seorang yang dermawan namun kehidupannya fakir yang tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Kisah Nabi Muhammad Saw Melakukan Perjalanan Pertama ke Syam

Tatkala Nabi Muhammad Saw mencapai usia 12 tahun, Beliau dibawa berniaga oleh pamannya, Abu Thalib ke negeri Syam, dan ini merupakan perjalanan beliau yang pertama. Para kafilah dagang ini berkumpul di dekat kota Basrah dan di sana bertemu dengan seorang pendeta Yahudi bernama Buhaira dan ada pula yang mengatakan pendeta Nasrani.
Pendeta ini memahami adanya keistimewaan pada diri Nabi Muhammad Saw dan berkata kepada Abu Thalib: “Sesungguhnya anak saudara ini akan mendapatkan kedudukan yang tinggi, maka jagalah dia baik-baik.” Kemudian pulanglah Abu Thalib bersama Nabi Muhammad Saw ke Mekkah.

Kisah Nabi Muhammad Berperan Dalam Perang Fijar

Pada tahun kelima belas, beliau pernah ikut dalam peperangan Fijar yang terjadi di suatu tempat antara Nahlah dan Thaif. Peperangan ini sebenarnya akan dimenangkan oleh kelompok dimana beliau SAW berada di dalamnya, namun akhirnya terjadi suatu perdamaian diantara dua kelompok yang berperang itu.

Kisah Perjalanan Kedua Nabi Muhammad Saw ke Syam

Ketika Nabi Muhammad Saw mencapai usia 25 tahun, Beliau pun pergi ke Syam untuk kedua kalinya dengan membawa barang dagangan milik Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita ternama dan kaya yang dipercayakan kepada Beliau.

Dalam perjalanan itu Nabi Muhammad Saw disertai seorang sahaya Khadijah yang bernama Maisaroh. Dalam perjalanan itu beliau bertemu dengan rahib bernama Nasthur, dan ia pun memahami adanya keistimewaan-keistemewaan pada diri Nabi Muhammad Saw sebagaimana yang pernah dilihat oleh Buhaira.

Kisah Nabi Muhammad Saw Menikah Dengan Siti Khadijah

Setibanya di Mekkah dari perjalanan dagang ini, Beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, yaitu dua bulan sesudah kedatangannya. Setelah itu Nabi Muhammad Saw pindah ke rumah Khadijah untuk memulai lembaran baru dari kehidupannya, umur Khadijah pada waktu itu 40 tahun.

Dari pernikahan itu lahir 3 orang putera yaitu Al Qasim, Abdullah dan Thayyib, yang semuanya meninggal di waktu kecil, serta 4 orang puteri yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah.
Keempat puteri itu hidup sampai mereka besar. Yang tertua dari mereka menikah dengan Abil Aash ibnu Rabi’ bin Abdus Syam. Ruqayyah menikah dengan Utbah bin abi Lahab, sedang Ummu Kultsum menikah dengan Utaibah bin Abi Lahab.
Ruqayyah dan Ummu Kultsum kemudian menikah lagi dengan Usman bin Affan. Adapun yang termuda yaitu Fatimah Az Zahra menikah dengan Ali bin Abi Thalib ra.

Kisah Nabi Muhammad Saw Ikut Serta Dalam Perbaikan Ka’bah

Ka’bah adalah bangunan pertama yang didirikan atas nama Allah Swt untuk beribadah dan menauhidkan-Nya. Bangunan ini didirikan oleh Abul Anbiya, Nabi Ibrahim As setelah berhasil menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya sekaligus kuil tempat pemujaannya.
Setelah masa Nabi Ibrahim As, ka’bah beberapa kali dilanda bencana yang melemahkan dinding dan fondasinya. Banjir besar menggoyahkan bangunan Ka’bah beberapa tahun sebelum nubuwwah.
Nabi Muhammad Saw ikut aktif dalam perbaikan Ka’bah. Beliau ikut memanggul batu di atas pundaknya dengan beralaskan sehelai kain. Menurut pendapat yang sahih, peristiwa itu terjadi ketika Nabi Muhammad Saw menginjak usia 35 tahun.

Nabi Muhammad Saw juga memainkan peranan penting dalam memecahkan masalah pelik yang menyebabkan semua kabilah bertengkar sengit. Tak kunjung ada keputusan siapa yang paling berhak untuk mendapatkan kehormatan mengembalikan Hajar Aswad di tempat semula.
Nabi Muhammad Saw berhasil memecahkan masalah itu dengan sangat brilian. Beliau memutuskan untuk meletakkan Hajar Aswad di atas surbannya dan masing-masing kabilah memilih memilih seorang wakil yang memegang ujung sorban dan mengangkatnya bersama-sama, hingga tiba di tempatnya lalu Nabi Muhammad Saw mengambil Hajar Aswad dan menaruhnya di tempatnya, maka bereslah persoalannya.

Kisah Nabi Muhammad Saw di Angkat Menjadi Nabi dan Rasul

Pada tahun keempat puluh, Allah Swt memuliakan beliau SAW dengan ditetapkannya sebagai Nabi dan Rasul dengan turunnya Malaikat Jibril kepadanya, dimana sebelumnya beliau menyendiri beruzlah dan beribadah dengan memilih tempat di Gua Hira disebelah atas Jabal Nur. Dan pertama kali yang beliau rasakan dan diperlihatkan kepada beliau adalah adanya mimpi yang benar.

Kisah Nabi Muhammad Saat Menerima Wahyu Pertama

Ketika Nabi Muhammad Saw menyendiri di Gua Hira, turunlah wahyu pertama dibawa oleh Jibril yang merupakan wahyu dari Allah SWT, ialah firman Allah yang berbunyi :
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ –  خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ –  اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ  –  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ 
Yang artinya :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq, 1-4)

Adalah Waraqah bin Nauval anak paman Khadijah binti Khuwailid, seorang yang masyhur di Makkah karena keluasan ilmunya dalam hal ihwal agama-agama samawi.
Tatkala Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Muhammad Saw, Khadijah pergi menemuinya dan memberitahukan kepadanya tentang peristiwa tersebut. Waraqah berkata: “Demi Tuhan yang nyawa Waraqah berada ditangan-Nya, jika engakau percaya hai Khadijah, telah datang malaikat agung yang pernah datang kepada Musa dan sesungguhnya ia (Nabi Muhammad Saw) adalah nabi dari umat ini.”

Kisah Nabi Muhammad Melakukan Dakwah Secara Rahasia

Dan diantara orang yang pertama kali beriman dari kalangan laki-laki adalah Abu Bakar bin Kuhafah, dan dari kalangan wanita adalah istri beliau, Khadijah dan dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib, dimana Ali belum pernah melakukan sujud sama sekali terhadap suatu patung, sehingga dengan demikian kepada beliau diberi tambahan (sesudah menyebut namanya) dengan sebutan Karramallahu Wajhah (Allah telah memuliakan pribadinya).

Perintah Dakwah Secara Terang-terangan

Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada beliau untuk melakukan dakwah secara terang-terangan, dengan firmanNya,
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
Yang artinya :
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Al-Hijr, 94)
Maka beliau respon dan sambut perintah Allah SWT ini dengan baik, maka beliau melakukan dakwah kepada manusia untuk mengesakan Allah dan meninggalkan perbuatan syirik dan kekufuran. Sebagian mereka ada yang beriman dan sebagian ada yang kafir.

Kisah Nabi Muhammad Saw Disakiti Oleh Kaumnya

Nabi Muhammad Saw pernah disakiti oleh kaumnya secara keji, antara lain beliau dilempari dengan batu atau dengan kotoran di pintu rumahnya. Namun beliau senantiasa bersikap sabar dan sabar, sehingga akhirnya yang hak mengalahkan yang batil, karena sebenarnya yang batil itu akan kalah dan hancur.

Kisah Nabi Muhammad Saw Melakukan Hijrah Pertama ke Negeri Habasyah

Pada tahun ini, Nabi Muhammad Saw memerintahkan kepada para sahabatnya untuk berhijrah ke negeri Habasyah (Ethiopia), setelah mengetahui bahwa Kaum Quraisy selalu melakukan tindakan-tindakan yang menyakitkan kepada mereka, padahal tidak ada kaum kerabat yang akan menolong dan menghalang-halangi tindakan kaum Quraisy tersebut.

Maka sebagian sahabat berhijrah untuk menyelamatkan agama mereka, dan ini adalah hijrah pertama dari Mekkah, dimana jumlah mereka yang berhijrah adalah 80 orang sahabat. Mereka kembali lagi ke Mekkah dari Habasyah setelah berdiam di sana selama tiga bulan.

Kisah Nabi Muhammad Saw Ketika Melaksanakan Hijrah Kedua ke Negeri Habasyah

Pada tahun ketujuh ini, Nabi bersama-sama pamannya, Abu Thalib dan Bani Hasyim serta Bani Muthalib, baik yang muslim maupun yang masih kafir, memasuki Syi’ib. Maka pada kesempatan ini kalangan Quraisy memboikot dengan memutus jalur suplai makanan dan kegiatan berniaga di pasar kepada mereka, kecuali apabila mereka menyerahkan Nabi Muhammad Saw kepada kalangan Quraisy untuk dibunuh.
Kaum Quraisy menulis isi boikot di lembaran kulit yang digantungkan di Kabah. Maka Nabi Muhammad Saw memerintahkan kepada para sahabatnya untuk melakukan hijrah ke Habasyah, yakni hijrah untuk kedua kalinya.

Kisah Nabi Muhammad dan Penghentian Boikot oleh Orang-orang Quraisy

Nabi Muhammad Saw dan kaumnya terkurung di dalam Syi’ib selama 3 tahun tidak menerima makanan kecuali secara sembunyi-sembunyi, sehingga mereka makan dedaunan. Kemudian orang-orang Quraisy  menghentikan pemboikotan, sedang lembaran kulit yang berisi pengumuman biokot itu telah dimakan rayap.
Maka keluarlah Nabi Muhammad Saw dari tempat yang terkurung itu, perisitiwa itu terjadi pada 10 tahun kenabian.

Kisah Nabi Muhammad di Tahun Kesedihan (‘Amul Huzni)

Pada tahun kesepuluh, Khadijah istri Nabi Muhammad Saw wafat dan dua bulan kemudian wafat pula paman Nabi Muhammad Saw, Abu Thalib, pada usia delapan puluh tujuh tahun.
Setelah wafat Abu Thalib ini, tindakan menyakiti Nabi Muhammad Saw dari kalangan Quraisy semakin bertambah keras, karena mereka beranggapan bahwa apa yang telah mereka usahakan dan capai dari Rasulullah SAW tidak seperti apa yang telah mereka peroleh ketika Abu Thalib masih hidup.

Kisah Nabi Muhammad Melakukan Hijrah ke Thaif

Pada tahun kesepuluh ini, Rasulullah melakukan hijrah ke Thaif, dan beliau berdiam di sana selama satu bulan, melakukan dakwah kepada penduduk Thaif. Namun dakwah beliau di sana tidak mendapat respon dari mereka, bahkan justru menolaknya dengan suatu penolakan dan tindakan yang buruk. Mereka melakukan pelemparan batu kepada beliau, sehingga mengenai kepala beliau dan menyebabkan luka-luka di kepalanya. Setelah dakwah di sana gagal, beliau kembali lagi ke Mekkah.

Kisah Nabi Muhammad dan Peringatan Isra dan Mi’raj

Pada tahun kesebelas ini, terjadinya peristiwa Isra dan Mi’raj. Isra adalah perjalanan Rasulullah Saw di waktu malam hari dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjdiil Aqsha di Baitul Maqdis di Palestina, dan beliau pulang kembali pada malam itu juga ke Mekkah. Al-Qur’an telah menjelaskan peristiwa ini dengan firman Allah Swt :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Yang artinya :
”Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Al-Isra, 1)
Sedangkan Mi’raj adalah naiknya beliau pada malam itu juga ke alam tinggi dan di sana diwajibkannya ibadah shalat yang lima waktu.

Kisah Nabi Muhammad Menyebarkan Islam di Madinah

Dan Rasulullah SAW melakukan kegiatan keluar ke kabilah-kabilah Arab untuk melakukan dakwah memperkenalkan ajaran islam kepada mereka. Sebagian mereka ada yang beriman dan sebagian ada yang tetap kafir.
Diantara mereka yang beriman, ada enam orang dari penduduk Madinah, yang antara lain karena telah tersebarnya Islam di sana.
Pada tahun 12 kenabian, dua belas orang laki-laki dari Madinah menemui Rasulullah SAW. Diantaranya sepuluh orang dari suku Aus dan dua orang dari suku Khazraj dan kemudian mereka semua beriman. Dan dari yang dua belas orang ini, lima orang diantaranya adalah dari kelompok mereka yang enam orang yang telah beriman sebelumnya.
Mereka keseluruhan melakukan baiat dihadapan Nabi untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak melakukan pencurian dan tidak akan melakukan perbuatan zina, kemudian mereka kembali ke Madinah. Mereka di sana dengan pertolongan Allah mendakwahkan Islam kepada penduduk Madinah.
Pada tahun 13 kenabian, datang kepada Rasulullah SAW tujuh puluh orang laki-laki dan dua perempuan dari penduduk Arab Madinah, dan mereka masuk Islam semuanya serta melakukan baiat dihadapan Nabi sebagai baiat yang kedua.
Kemudian mereka pulang kembali ke Madinah, dan dengan perantaraan mereka maka tersebarlah Islam diantara penduduk Madinah secara luas.

Kisah Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Madinah

Dan ketika tindakan menyakiti Nabi dan para sahabat serta kaum muslimin bertambah keras dari kalangan Quraisy, maka Nabi memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan hijrah ke Madinah dan selanjutnya beliau pun bersama-sama dengan Abu Bakar juga melakukan hijrah dengan berjalan kaki cepat-cepat hingga beliau berdua sampai ke Gua Tsur.

Kisah Nabi Muhammad Saw di Gua Tsur

Di dalam Gua Tsur ini, turun wahyu dari Allah SWT berupa ayat,
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّـهَ مَعَنَا
Yang artinya,
”… di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’.” (At-Taubah, 40)
Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW akan tidur di dalam Gua itu, Abu Bakar meletakan kepala beliau di atas dua lututnya dan sewaktu beliau sedang tidur, Abu Bakar melihat suatu lubang di dinding gua itu, maka ia meletakkan mata kakinya untuk menutupi lubang tersebut, khawatir di dalam lubang itu ada sesuatu yang menyakiti Nabi.

Maka pada saat itu mata kaki Abu Bakar disengat oleh kalajengking yang ada di dalam lubang itu, tetapi Abu Bakar meskipun merasa kesakitan oleh sengatan itu, tidak menggerakkan kakinya, dan ketika rasa sakitnya memuncak, air mata Abu Bakar berjatuhan mengenai pipi Rasulullah SAW.
Maka beliau terbangun dan menanyakan kepada Abu Bakar kenapa ia menangis? Ia menjawab bahwa ia disengat kalajengking di kakinya, maka beliau mengusap dengan tangan beliau di tempat yang sakit itu, dan seketika rasa sakit itu hilang dengan pertolongan Allah SWT.

Kisah Nabi Muhammad Saw Mendirikan Masjid Pertama di Quba

Setelah tiga malam beliau dan Abu Bakar berdiam di Gua Tsur, seorang petunjuk jalan datang menemui beliau berdua dengan membawa dua ekor unta tunggangan. Maka kemudian mereka bertiga pergi berjalan menuju kota Madinah.

Mereka tiba di kota Quba pada hari Senin tanggal dua belas Rabi’ul Awwal. Itulah tanggal hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah, yang kelak dijadikan awal penanggalan Islam yang dimulai dari bulan Muharram, yaitu awal Tahun Hijriyah yang disandarkan kepada hijrah beliau ke Madinah.

Di kota Quba ini, Rasulullah SAW mendirikan sebuah masjid yang oleh Allah SWT diberikan sifat sebagai masjid yang dibangun atas dasar taqwa (kepada Allah) dari semenjak pertama hari dibangunnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang cinta untuk bersuci, dan Rasulullah SAW melakukan shalat di dalam masjid ini bersama-sama empat puluh orang sahabatnya.

Kisah Nabi Muhammad Keluar Menuju Kota Madinah

Setelah melakukan shalat Jum’at pertama yang Rasulullah SAW lakukan di desa Bani Salim bin ‘Auf, beliau kemudian menaiki untanya menuju kota Madinah. Di sana para kaum Anshar menyambut beliau dengan suka cita penuh kegembiraan, setaya mengelilingi beliau, sementara para wanita dan anak-anak keluar dari rumah mereka ingin menemui beliau seraya mendendangkan nasyid :
Thala’al badru ‘alaina, min tsaniyatil wada’i
Wajabasy syukru’alaina, ma da’a lillahi da’i
Ayyuhal mab’utsu fina, ji ta bil amri mutha’i
Yang artinya,
“Di atas kita telah muncul bulan purnama. Muncul dari Tsaniyah al-Wada. Kita wajib bersyukur kepadaNya, Seorang Da’I menyeru kita ke jalanNya. Wahai orang yang diutus kepada kami, Kau datang membawa perintah yang harus ditaati.”

Kisah Nabi Muhammad di Tahun Pertama Hijriah

Di kota Madinah Nabi Muhammad SAW, mendirikan masjidnya yang mulia. Beliau secara pribadi ikut serta membangun masjid tersebut, sebagai bentuk dorongan kepada kaum muslimin untuk cinta bekerja dan beramal.
Di tahun ini telah pula disyari’atkan adzan, sebagai suatu cara dan saran untuk memanggil kaum muslimin untuk berkumpul, di kala telah masuk waktu shalat.

Disyariatkannya Berperang

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Nabi SAW tidak pernah memaksa seseorang untuk memeluk agama Islam, juga beliau tidak memiliki sebuah pedang untuk menebas leher-leher orang. Tugas yang diemban beliau adalah semata-mata untuk berdakwah mengajak orang untuk beriman, sekaligus menyampaikan kabar gembira dengan datangnya Islam.
Namun karena kaum kafir Quraisy terus menerus menyakiti orang-orang islam, disebabkan hasad dan dengki, maka kepada kaum muslimin diijinkan untuk berperang mempertahankan diri atas tindakan mereka.

Kisah Nabi Muhammad Saw di Tahun Kedua Hijriah

Di tahun ini terjadi perang Waddan, yaitu suatu desa yang terletak diantara kota Mekkah dan kota Madinah, juga perang Buwath, yaitu suatu pegunungan dari pegunungan Juhainah, dan perang Al-‘Asyirah yaitu suatu tempat antara Yanbu’ dan Dzil Marwah, yang kesemua itu semata-mata untuk menghambat perjalanan kaum Quraisy, bukan untuk membinasakannya.

Perubahan Arah Kiblat dan Puasa Ramadhan

Pada tahun kedua hijrah ini, arah kiblat dirubah, yang semula menghadap ke arah Baitul Maqdis di Palestina, kini ke arah Ka’bah yang ada di Mekkah. Juga pada tahun ini, diwajibkannya puasa Ramadhan, dimana Rasulullah SAW sebelumnya berpuasa sebanyak tiga hari setiap bulannya.

Kewajiban Zakat Mal (Harta)

Pada tahun kedua hijriah ini, juga ditetapkannya kewajiban untuk mengeluarkan zakat bagi orang-orang kaya dari umat Islam, yang diberikan kepada orang-orang fakir dan miskin dan golongan-golongan lainnya, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an,
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّـهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّـهِ ۗ وَاللَّـهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Yang artinya,
”Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan oleh Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah, 60)

Kisah Nabi Muhammad Saw di Perang Badar Kubra

Pada tahun kedua hijriah juga terjadi Perang Badar Kubra, yaitu ketika Nabi Muhammad Saw keluar kota Madinah dengan membawa pasukan sebanyak 313 personil. Ketika kaum kafir Quraisy mengetahui hal tersebut, maka mereka mengumpulkan pasukannya yang berjumlah 1000 personil.

Dan kedua pasukan ini, bertemu di Badar, maka terjadilah pertempuran antara keduanya, dan Allah SWT dalam pertempuran ini menolong pasukan Islam dengan mendatangkan para malaikat yang ikut bertempur bersama mereka.

Dalam jarak waktu yang tidak lebih dari satu jam, pasukan Quraisy dapat dikalahkan, mereka lari dengan meinggalkan korban mati dari pihak mereka sebanyak 70 orang dan tertawan sebanyak 70 orang juga. Firman Allah SWT,
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّـهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖفَاتَّقُوا اللَّـهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Yang artinya :
”Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah.” (Ali Imran, 123)

Tebusan Tawanan Dengan Mengajar

Tawanan-tawanan Quraisy pada waktu itu terbagi menjadi 2 bagian. Satu bagian terdiri dari orang-orang kaya dan satu bagian terdiri dari orang-orang miskin.
Adapun orang-orang kaya, mereka itu ditebus oleh keluarga mereka dengan harta sedangkan orang-orang miskin tebusannya ialah tiap-tiap orang harus mengajar membaca dan menulis kepada sepuluh orang anak di Madinah.

Sholat ‘Id Pertama

Pada tahun kedua hijriah pula disyari’atkannya Shalat Hari Raya, yang hikmahnya tak diragukan lagi banyaknya, bagi orang yang berakal. Seorang Imam memimpin dan melaksanakan Shalat Hari Raya ini sebanyak dua raka’at bersama-sama kaum muslimin.
Kemudian menyampaikan khutbah sesudahnya, memberikan pengajaran dan nasehat kepada mereka. Selanjutnya kaum muslimin bersalaman satu sama lain penuh keakraban dan persaudaraan paripurna.

Ali Menikah Dengan Fatimah

Pada tahun kedua hijrah ini, Ali menikah dengan Fatimah, semoga Allah SWT meridhoi keduanya. Saat itu Ali berusia 21 tahun, sementara Fatimah berusia 15 tahun. Juga di tahun itu Rasulullah SAW menikahi Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq, semoga Allah meridhoi keduanya dan menjadikan surga tempat tinggalnya.

Kisah Nabi Muhammad di Perang Ghathafan

Perang Ghathafan terjadi pada tahun 3 hijriah. Peperangan ini sebenarnya tidak begitu penting, akan tetapi dalam perang ini terjadi suatu peristiwa besar. Pada waktu itu keluar 450 orang dari Bani Tsa’labah dan Muharib di bawah pimpinan Du’tsur bin Harits Al Muharibi yang ingin menyerbu Madinah. Maka keluarlah Nabi Muhammad Saw dengan pasukannya dan larilah musuh ke gunung-gunung.
Tatkala Nabi Muhammad Saw sedang berisirahat dan menjemur bajunya yang basah sambil duduk di bawah pohon, tiba-tiba muncul Du’tsur secara diam-diam hendak membunuh Beliau seraya berkata:
“Siapakah yang akan melindungimu, hai Muhammad?”
Beliau menjawab: “Allah Ta’ala.”
Maka orang itu pun merasa takut dan pedangnya terjatuh dari tangannya, lalu Nabi Muhammad Saw mengambilnya seraya berkata: “Siapakah yang dapat melindungimu dariku?”
Du’tsur menajawab: “Tidak ada.”
Maka Nabi Muhammad Saw memaafkannya dan ia pun masuk Islam serta mengajak kaumnya memeluk agama Islam.

Perang Uhud

Pada tahun 3 hijriah terjadi peperangan Uhud, 3000 personil pasukan Quraisy yang terdiri dari pasukan berkuda dan perbekalan perang yang cukup banyak, berangkat menuju kota Madinah untuk melaksanakan balas dendam atas terbunuhnya para bangsawan mereka di peperangan Badar.

Dan ini merupakan hari-hari yang cukup menyedihkan bagi kaum muslimin karena pada perang ini telah mati syahid Hamzah, paman Rasulullah SAW. Jumlah pasukan Islam yang terbunuh secara syahid sebanyak 70 lebih personil diantaranya 6 orang dari kaum Muhajirin dan selebihnya dari kaum Anshar. Sementara dari pihak kaum Musyrikin yang tewas ada sebanyak 23 orang.

Pada tahun ini dilahirkannya Hasan bin Ali r.a dan Usman bin Affan menikah dengan Ummi Kulsum putrid Rasulullah SAW, setelah wafatnya Ruqoyah, saudara Ummi Kulsum. Oleh karena itulah Usman bin Affan dijuluki Dzun Nurain (yang mempunyai dua cahaya). Pada tahun ini juga Rasulullah SAW menikahi Hafsah binti Umar bin Khattab r.a.

Pada tahun ini Allah SWT mengharamkan khamar secara mutlak, karena bahayanya yang demikian besar terhadap akal, harta benda dan fisik manusia. Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Yang artinya,
”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khammar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah pebuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah, 90)

Tahun Keempat Hijriah

Pada tahun ini Rasulullah SAW memerintahkan kaum Yahudi untuk pergi meninggalkan kota Madinah. Sebelumnya diantara mereka dengan Rasulullah SAW telah diadakan suatu perjanjian, dimana diantara kedua belah pihak harus saling memelihara dan menjaga keamanan masing-masing dan tidak saling mengkhianati terhadap perjanjian itu. Namun pihak Yahudi berkhianat terhadap Rasul dan berusaha membunuh beliau, karena terbujuk oleh rayuan syaithan.

Oleh karena itulah mereka diperintahkan untuk keluar atau diusir oleh Rasulullah SAW dari Madinah. Namun mereka enggan mematuhi perintah beliau, dan mereka tetap tidak mau pergi. Maka kaum muslimin mengepung mereka dan melakukan pemboikotan terhadap mereka serta memaksa mereka untuk pergi meninggalkan Madinah, dan akhirnya mereka pergi.

Pada tahun ini disyariatkannya shalat Khauf, shalat karena takut dan diturunkannya wahyu tentang tayammum. Juga di tahun ini, Rasulullah SAW memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari tulisan orang Yahudi agar Zaid bias menuliskan untuk Nabi surat kepada orang Yahudi, dan membacakan kepada beliau surat-surat yang datang dari mereka. Pada tahun ini pula, Husein bin Ali r.a dilahirkan.

Perang Khandaq atau Ahzab (Persekutuan Musuh)

Pada tahun 5 hijriah terjadi perang Khandaq, dimana orang Musyrik dan orang-orang Yahudi bergabung untuk memerangi kaum Muslimin. Jumlah mereka sebanyak 10.000 orang yang dipimpin oleh Abu Sufyan, dan mereka mengepung kota Madinah serta mengadakan penekanan-penekanan ketat kepada kaum Muslimin, dan mempersempit ruang gerak mereka.

Rasulullah SAW beserta segenap kaum Muslimin, tidak keluar sama sekali dari kota Madinah, tetapi atas saran Salman Al-Farisi beliau memerintahkan kaum Muslimin untuk menggali parit, sebagai bentuk strategi untuk menghindari serbuan mereka.

Selama dalam pengepungan terhadap kaum Muslimin itu, Nabi berdoa kepada Allah SWT untuk kehancuran musuh, beliau mengucapkan doa, yang artinya,

”Ya Allah Tuhan yang menurunkan Kitab, Tuhan yang cepat perhitunganNya, hancurkanlah kaum sekutu (musyrik dan yahudi). Ya Allah hancurkanlah mereka sehancur-hancurnya, dan porak-porandakan mereka.”
Doa Nabi Muhammad Saw didengan Allah SWT, Tuhan mengirim angin putting beliung yang memporak-porandakan pasukan sekutu, dan mereka lari pontang panting meninggalkan kota Madinah pada malam itu juga.

Perintah Memakai Hijab

Pada tahun 5 hijriah juga diberlakukannya ketentuan memakai hijab terhadap para istri Nabi SAW dengan diturunkannya ayat hijab. Allah SWT berfirman,
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
Yang artinya,
”Dan apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al Ahzab, 53)
Dan Nabi SAW telah bersabda yang artinya, “Seseorang laki-laki tidak dibenarkan duduk-duduk berdua dengan seseorang perempuan di tempat yang sunyi kecuali bersama muhrimnya.”

Diwajibkannya Ibadah Haji

Pada tahun kelima hijriah ini, ibadah haji diwajibkan bagi mereka yang mampu mengadakan perjalanan ke Mekkah. Allah SWT berfirman,
وَلِلَّـهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Yang artinya,
”…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah SWT, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali Imran, 97)
Hikmah diwajibkannya ibadah haji cukup banyak, diantaranya yang terpenting dan paling esensi adalah berkumpulnya kaum Muslimin yang sedang melaksanakan ibadah haji ini. Dengan perbedaan kulit, etnis dan bahasa, dan Negara, berkumpul di satu tempat dalam rangka memperbaharui janji ikatan ukhuwah islamiyyah dan tekad kesetian untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi.

Perjanjian Damai Hudaibiyah

Pada tahun 6 hijriah telah terjadi Shulhul Hudaibiyah (perjanjian damai hudaibiyah). Rasulullah SAW bersama-sama kaum Muslimin sebanyak 1400 orang pergi meninggalkan kota Madinah menuju Mekkah untuk melaksanakan ibadah Umroh. Mereka tidak membawa senjata, hanya perlengkapan untuk bepergian sebagai musafir.

Ketika sampai di Hudaibiyah, rombongan Rasulullah SAW dicegat oleh orang-orang kafir Quraisy dan mereka dihalang-halangi untuk melanjutkan perjalanan ke Baitullah Haram. Setelah diadakan perundingan diantara kedua belah pihak, dicapai kesepakatan damai meliputi lima hal, yaitu :
Disepakati adanya gencatan senjata (penghentian perang) antara kedua belah pihak selama sepuluh tahun.
Saling memelihara keamanan masing-masing antara kedua belah pihak.

Kaum Muslimin agar kembali pulang ke Madinah, tidak meneruskan perjalanan untuk Umrah pada tahun ini.
Rasulullah SAW harus mengembalikan ke pihak kaum Musyrikin Quraisy bila ada dari mereka yang datang ke Madinah, meskipun telah masuk Islam. Tidak ada kewajiban bagi kaum Musyrikin Quraisy untuk mengembalikan kepada Rasulullah SAW orang yang dating ke pihak mereka dari Madinah.
Barangsiapa yang ingin masuk ke kelompok Muhammad, boleh masuk ke kelompoknya. Dan barangsiapa yang ingin masuk ke kelompok Quraisy, juga dipersilahkan masuk ke kelompoknya.

Bai’atur Ridwan

Setelah Teks Perjanjian Damai Hudaibiyah selesai ditulis, Nabi Muhammad Saw menunjuk Usman bin Affan untuk mengirimkan Teks Perjanjian dimaksud ke pihak kaum Musyrikin dengan ditemani oleh beberapa orang sahabat. Sesampainya Usman ke sana, mereka menangkapnya. Berita penangkapan Usman ini sampai ke kalangan kaum Muslimin. Bahkan telah tersebar desas desus bahwa Usman dan kawan-kawan telah dibunuh oleh pihak kaum Musyirikin.

Maka Nabi Muhammad Saw setelah mendenga rumor bahwa Usman telah dibunuh, Beliau seketika memerintahkan seluruh kaum Muslimin untuk berkumpul, untuk melakukan bai’at di bawah suatu pohon, bahwa mereka siap mati untuk menyelamatkan Usman.

Setelah berita bai’at ini didengar oleh kalangan kaum Musyrikin, mereka merasa takut dan gentar. Akhirnya mereka membebaskan Usman dan kawan-kawannya. Allah Swt berfirman:
Teks arab
Yang terjemahannya sebagai berikut :
“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Al-Fath,10).
Dan Allah swt berfirman pula:
Tek arab
Yang terjemahannya sebagai berikut :
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Al-Fath, 18).

Pengiriman Surat Kepada Raja-raja

Nabi Muhammad Saw pada tahun 6 hijriah ini berkirim surat kepada beberapa orang Raja, mengajak mereka untuk memeluk Islam. Surat-surat itu diberi stempel dengan sebuah cincin yang terbuat dari perak yang tertulis padanya kata-kata: Muhammad Rasulullah.
Sebagian mereka ada yang menyambut ajakan ini dan masuk Islam, dari sebagian lagi ada yang tetap dalam kekafirannya. Dan diantara mereka yang beriman, adalah Najasyi Raja Habasyah, Mundzir bin Sawa Raja Bahrain dan Jaifar dan ‘Abd dan dua orang Raja ‘Amman.

Kisah Nabi Muhammad di Perang Khaibar

Pada tahun 7 hijriah terjadi Perang Khaibar. Pihak yang menyerang pada kali ini adalah mereka yang pernah menyerang sebelumnya ke kota Madinah pada perang Khandak. Maka Rasulullah Saw dengan 1600 prajuritnya menyongsong mereka serta kemudian mengepungnya selama enam hari. Dan pada malam ketujuh, Rasulullah Saw menyerahkan bendera perang kepada Ali bin Abi Thalib (semoga Allah memuliakannya) untuk memimpin perang.
Pada saat itu, Ali mengeluh sedang menderita sakit mata, maka ketika Rasulullah Saw mengetahui itu, kedua mata Ali diusap oleh tangan beliau sambal berdoa untuk kesembuhan kedua matanya. Maka dengan atas izin Allah Swt, kedua mata Ali seketika sembuh.
Pada perang Khaibar ini, Allah Swt memberikan kemenangan kepada pihak kaum Muslimin dibawah komando Ali, dengan membawa rampasan perang yang cukup besar.

‘Umatul-Qadha (‘Umrah Pengganti)

Pada tahun 7 hijriah juga dilakukan Umatul-Qadha. Nabi Muhammad Saw memerintahkan kepada para sahabatnya di bulan Dzulqa’dah untuk mengerjakan umrah sebagai pengganti umrah yang belum sempat dilaksanakan karena mereka dihalang-halangi oleh kaum Musyrikin pada hari dilakukannya Perjanjian Damai di Hudaibiyah.

Mereka berangkat menuju kota Mekkah untuk melaksanakan umrah dengan jumlah yang cukup besar. Ketika mengetahui hal ini, kaum Musyrikin keluar dari kota Mekkah, menyingkir ke puncak-puncak gunung, menghindar untuk melihat orang-orang mukmin melakukan tawaf di Baitil Haram. Setelah selesai melaksanakan umrah, kaum muslimin kembali ke Madinah, setelah mereka berdiam di Mekkah selama tiga hari.

Kisah Nabi Muhammad di Perang Mu’tah

Pada tahun 8 hijriah terjadi Perang Mu’tah yang terkenal itu. Ketika itu Nabi Muhammad Saw mempersiapkan prajuritnya sebanyak 3000 orang dan menugaskan Zaid bin Haritsah untuk menjadi pimpinannya. Sementara pihak Romawi telah mengerahkan pasukannya sebanyak 150000 prajurit.
Kedua pasukan bertemu di Mu’tah dan terjadilah pertempuran diantara keduanya. Kalau tidak karena tipu daya Khalid bin Walid serta strateginya yang jitu, kaum Muslimin di awal-awal pertempuran hampir mengalami kekalahan, tetapi berkat strategi Khalid tersebut akhirnya pasukan kaum Muslimin mendapatkan kemenangan.

Fathu Mekkah (Penaklukan Kota Mekkah)

Kaum Musyrikin Quraisy ternyata merobek-robek Perjanjian Damai yang pernah disepakati di Hudaibiyah dan mengkhianati butir-butir yang tercantum di dalamnya. Menghadapi kenyataan ini maka Nabi Muhammad Saw mempersiapkan dan mengerahkan prajurit Muslimin untuk diberangkatkan ke Mekkah.
Nabi Muhammad Saw beserta sebagian prajurit berangkat melalui jalan sebelah bawah, sementara Khalid bin Walid mengepalai sebagian prajuritnya berangkat melalui jalan sebelah atas. Ketika Rasulullah Saw sampai di kota Mekkah, Beliau mendapati bahwa di sekeliling Ka’bah terdapat tiga ratus enam puluh patung yang tergantung padanya, maka dengan kayu di tangan, Beliau hancurkan patung-patung itu seraya mengatakan:
Teks arab
Yang terjemahannya sebagai berikut:
“Yang benar telah dating dan yang bathil telah lenyap.” (Al-Isra’, 81)
Firman-Nya lagi:
Teks arab
Yang terjemahannya sebagai berikut:
“Kebenaran telah datang dan yang bathil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan memulai.” (Saba, 49).
Kemudian Nabi Muhammad Saw menyampaikan pidato sambal berdiri di tengah-tengah Masjidil Haram: Sesungguhnya Allah Swt telah memuliakan Mekkah pada hari diciptakannya langit dan bumi, dan ia berkedudukan mulia dengan kemuliaan Allah Swt sampai hari kiamat. Maka tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah Swt dan hari akhir untuk melakukan pertumpahan darah atau menebang atau mencabut sesuatu pohon di kota Mekkah.
Bila ada seseorang yang menganggap ringan untuk memerangi Rasulullah Saw di kota Mekkah, maka katakanlah oleh kamu: Bahwasanya Allah Swt telah memberikan ijin kepada Rasul-Nya dan tidak memberikan ijin kepadamu, dan bahwasanya telah dihalalkan dan dibolehkan bagiku pada saat diwaktu siang dan kini kemuliaan kota Mekkah pada hari ini telah kembali, sebagaimana kemuliaannya di hari kemarin. Maka hendaknya yang hadir diantara kalian pada saat ini, untuk menyampaikan berita ini kepada yang tidak hadir.

Kisah Nabi Muhammad Saat Peristiwa Perang Hunain

Allah Swt berfirman:
Teks arab
Yang terjemahannya sebagai berikut:
“Sesungguhnya Allah Swt telah menolong kami (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak dan (ingatlah) peperangan Hunain, yang diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-taubah, 25).

Nabi Muhammad Saw saat itu keluar dari kota Madinah dengan 10000 orang prajurit. Kaum Mukminin melihat jumlah yang demikian besar itu merasa congkak. Kemudian ketika pasukan Muslim bertemu dengan pasukan musuh, yang saat itu mereka tersembunyi dari penglihatan pasukan Muslim dengan batu-batu besar. Betapa terkejutnya pasukan Muslim ketika melihat kenyataan ini, dan mereka dapat dikalahkan oleh pasukan musuh, dan lari bercerai-berai. Tidak ada yang bertahan bersama Rasulullah Saw kecuali sekolompok sahabat yang tetap bertahan bersama beliau, diantaranya Abu bakar, Umar, Ali, abbas dan Abu sufyan bin Haris anak paman Rasulullah Saw.

Kisah Nabi Muhammad Saw Saat Kembali ke Madinah

Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya kembali ke Madinah setelah sebelumnya berdiam di Ji’ranah selama tiga belas malam. Dari Ji’ranah ini beliau berihram untuk melaksanakan umrah, kemudian memasuki kota Mekkah di waktu malam hari, maka beliau bertawaf dan bersa’i memberi isyarat dengan tangan beliau ke arah Hajar Aswad. Rasulullah Saw telah meninggalkan kota Madinah selama dua bulan enam belas hari.

Kisah Nabi Muhammad Saat Perang Ekspedisi Tabuk

Pada tahun 9 hijriah terjadi Perang Tabuk yang dinamakan Perang ‘Usrah yakni perang di masa susah dan sulit, karena peperangan ini terjadi ketika kaum  muslimin sedang mengalami kesulitan hidup, karena paceklik dan udara pun sangat panas.

Ketika itu Nabi Muhammad Saw mengumpulkan sejumlah pasukan dari Mekkah dan Madinah serta dari beberapa kabilah Arab, setelah mendengar berita bahwa orang-orang kafir mengerahkan pasukannya di daerah Syam untuk melakukan penyerangan terhadap kaum muslimin di negeri mereka, yakni Madinah.
Maka datanglah Abu Bakar memberikan sumbangan dengan seluruh harta kekayaannya, Umar bin Khattab dengan separuh kekayaannya, Usman bin Affan dengan sepuluh ribu dinar, sementara para ibu-ibu muslimat menyumbangkan perhiasan-perhiasan mereka sekedar kemampuan mereka.

Kemudian Nabi Muhammad Saw beserta prajurit tentaranya yang berjumlah 30000 personil berangkat menuju Tabuk. Namun sesampai di sana Beliau beserta prajuritnya sama sekali tak melihat pasukan musuh sebagaimana yang Beliau dengar itu. Maka akhirnya Rasulullah Saw memutuskan untuk kembali ke Madinah, setelah berdiam di Tabuk selama dua puluh malam dan dalam perjalanan pulang kembali itu, sempat membangun beberapa masjid.

Kisah Nabi Muhammad dalam Beberapa Peristiwa di Tahun 9 Hijriah

Pada tahun 9 hijriah telah datang kepada Nabi Muhammad Saw, utusan dari Tsaqif dan mereka semuanya memeluk Islam dan melakukan dakwah terhadap kaumnya yakni penduduk Thaif, maka mereka merespon ajakan tersebut dengan memeluk Islam.

Di tahun ini telah wafat Ummu Kultsum putri Rasulullah Saw, isteri Usman bin Affan Ra. Juga telah wafat Abdullah bin Abi Salul, pemimpin orang-orang munafik, dimana dengan meninggalnya ini kaum Muslimin merasa lega karena bebas dari kejahatan-kejahatannya.

Kisah Nabi Muhammad Ketika Abu Bakar Melaksanakan Haji

Pada bulan Dzulqa’dah tahun 9 hijriah, Nabi Muhammad Saw memerintahkan kepada Abu Bakar melaksanakan ibadah haji dengan kaum Muslimin, sekaligus diperintahkan untuk mengumumkan kepada mereka pada hari Nahar, bahwa setelah tahun ini, orang musyrik tidak dibolehkan melaksanakan ibadah haji, dan orang telanjang tidak dibenarkan untuk melakukan thawaf keliling Baitullahil-Haram. Untuk peristiwa ini, Allah Swt menurunkan wahyu-Nya:
Teks arab
Yang terjemahannya sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil-Haram sesudah tahun ini.” (At-Taubah, 28).

Kisah Nabi Muhammad saat Tahun Kesepuluh Hijrah

Pada tahun 10 hijriah Nabi Muhammad Saw mengutus Ali bin Abi Thalib ke Bani Madzij dari penduduk Yaman. Maka beliau berangkat ke sana dan sesampainya di sana beliau menemui mereka dan mengajak mereka untuk memeluk agama Islam. Mereka menolak ajakan Ali ini dan melempari kaum Muslimin dengan bongkahan batu-batu, maka oleh kaum Muslimin tindakan mereka itu dibalesnya dan akhirnya mereka kalah dan minta damai, dan oleh Ali permintaan mereka ini dipenuhi.

Dan Ali menemui mereka dan mengajak mereka untuk memeluk Islam, maka mereka mengikuti ajakan Ali dan masuk Islam semuanya.
Dan pada tahun ini juga Rasulullah Saw mengutus Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy’ari untuk mengajarkan ajaran-ajaran syariat islam. Mu’adz diutus ke penduduk Kurah al-‘Ulya dari arah ‘Adn, sementara Abu Musa diutus ke Kurah as-Sufla.

Kisah Nabi Muhammad Menjalani Haji Wada’

Nabi Muhammad Saw beserta seluruh sahabatnya pada tahun 10 hijriah berangkat menunaikan ibadah haji tepatnya pada hari Sabtu tanggal 25 Dzulqo’dah menuju kota Mekkah. Sesudah sampai di kota Mekkah, maka pada tanggal 8 Dzulqo’dah Beliau berangkat menuju Mina dan bermalam di sana. Dan pada tanggal 9 Dzulhijjah Beliau menuju Arafah dan di sana Beliau berkhutbah yang dikenal dengan nama Khutbatul Wada’, dimana Beliau dalam khutbah itu menjelaskan tentang hal-hal terpenting dari pokok-pokok dan cabang-cabang Agama Islam. Dan pada hari itu turun wahyu Allah Swt yang berbunyi:
Teks arab
Yang terjemahannya sebagai berikut:
“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu ni’mat Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah, 3).
Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Nabi Muhammad Saw pulang ke Madinah dengan selamat. Dan dengan berakhirnya tahun kesepuluh dari hijrahnya Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah, maka telah sempurna misi Beliau di Madinah selama sepuluh tahun kurang dua bulan dan sebelas hari.

Kisah Sakitnya Nabi Muhammad Saw

Pada tahun 11 hijriah Nabi Muhammad Saw mulai sakit-sakitan. Dan ketika sakit Beliau semakin parah, Beliau meminta ijin kepada seluruh isterinya, agar Beliau bisa dirawat di kediaman Aisyah saja. Ketika Beliau merasa udzur untuk melaksanakan shalat berjamaah dengan kaum Muslimin para sahabatnya, beliau menyuruh Abu Bakar agar shalat mengimami mereka. Beliau sendiri kemudian pergi keluar masjid, berjalan dipapah oleh Ali dan Fadhal, sementara Abbas mendahului berjalan di depan.
Nabi Muhammad Saw dibebat kepalanya sambil berjalan tertatih-tatih dengan kedua kakinya, hingga sampai di undakan terbawah dari mimbar. Maka para sahabat mengerumuni Beliau berebutan. Maka Beliau mengucapkan hamdalah seraya memuji dan memuja Allah Swt, kemudian bersabda: Wahai manusia, sampai berita kepadaku bahwa engkau semua takut kematian nabimu. Apakah ada Nabi sebelum aku ini yang kekal, sehingga aku juga akan kekal (tidak mati)? Ketauhilah, bahwa Aku akan menemui Rabbku, dan kamu akan menemuiku kelak. Maka aku wasiatkan kepadamu agar berbuat paik terhadap para Muhajirin Pertama, dan juga Aku wasiatkan kepadamu agar sesama kamu semua berbuat kebajikan. Kemudian berkata di akhir khutbahnya: Ketauhilah bahwa Aku adalah pendahulu bagimu dan kamu akan menyusul menemuiku. Ketauhilah bahwa sesungguhnya janjimu nanti ketemu di Haudh (Telaga). Ketauhilah, bahwa barangsiapa yang senang untuk bisa datang ke telaga itu dan bertemu denganku, maka hendaklah tangan dan lidahnya dijaga dari berbuat dan berkata yang tidak pada tempatnya, kecuali yang pantas untuk dikerjakan.

Kisah Wafatnya Nabi Muhammad Saw
Ketika Nabi Muhammad Saw wafat, sahabat Abu Bakar sedang tidak ada di Madinah. Sewaktu diberi tahu bahwa Nabi Muhammad Saw wafat, maka beliau segera datang ke rumah Aisyah dan masuk ke dalam seraya membuka kain penutup wajah jenazah Rasulullah Saw dan kemudian menciumnya dan terus menangis.

Selanjutnya beliau keluar dan mengucapkan pidato, maka beliau memuji Allah dan menyanjungnya. Selanjutnya berkata: “Ketauhilah, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad kini telah mati, dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah tetap senantiasa hidup tidak akan pernah mati. Kemudian beliau membaca firman Allah Swt:
Teks arab
Yang terjemahannya sebagai berikut:
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (Az-Zumar, 30).
Dan firman Allah Swt:
Teks arab
Yang terjemahannya sebagai berikut:
“Muhammad, itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran, 144)

Kisah Saat Jenazah Nabi Muhammad Saw Dimakamkan
Jenazah Nabi Muhammad Saw baru dimakamkan setelah selesai ditetapkan dan dibai’atnya Abu Bakar menjadi Khalifah pengganti Beliau, menjadi pemimpin kaum Muslimin. Jasad Rasulullah Saw dimandikan kemudian dikafani dengan tiga helai kain, tidak ada padanya baju, dan tidak adanya pula surban.
Kemudian jamaah kaum Muslimin menshalati jenazah Beliau satu persatu tanpa imam, secara bergantian. Pertama kaum lelaki, kemudian wanita dan selanjutnya anak-anak. Jenazah Beliau dimakamkan di rumah Aisyah, tempat dimana Beliau wafat.

Dimakamkan pada malam rabu tengah malam, dan di atas makamnya dipercikkan air oleh Bilal, sementara letaknya agak ditinggikan sekedar satu jengkal dari permukaan bumi. Semoga Allah Swt menganugerahkan shalawat dan salam kesejahteraan kepada Beliau, dan kepada keluarga serta para sahabatnya semua.

Usia Nabi Muhammad Saw
Usia Nabi Muhammad Saw adalah 63 tahun. Empat puluh tahun dijalani sebelum ditetapkannya sebagai Nabi di Mekkah, tiga belas tahun sesudah beliau menjadi Nabi di Mekkah juga, dan sepuluh tahun beliau jalani di Madinah sesudah hijrah.

Para ahli tarikh telah bersepakat bahwa hari lahir Nabi Muhammad Saw, hijrahnya dan wafatnya adalah pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awwal. Semoga Allah Swt menganugerahkan shalawat dan salam kesejahteraan kepada Beliau dan kepada keleuarga serta para sahabatnya semua. 

Referensi http://alwib.net/kisah-nabi-muhammad/